Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Dengarkan Hening

Ketika dunia yang kutinggali begitu gaduh akhir-akhir ini, aku memilih undur diri mendengarkan keheningan. Berjalan meretas batas peradaban modern dengan kehidupan bersama alam. Hujan, tanah berbatu, jalur berlumpur memeluk dengan mesra. Membawa kesejukan sekaligus kehangatan jiwa dan nurani yang sedikit berduka. Urang Kenekes (Suku Baduy) mengajarkan nilai dalam diam dan melalui laku keseharian mereka. Berhentilah dan dengarlah bagaimana alam bebicara tentang esensi hidup di setiap helaan nafas.


Sepuluh jam perjalanan pulang-pergi dalam kurun waktu 36 jam kunjungan membawa cerita yang tak semuanya bisa termuat dalam kata-kata dan gambar. Satu perjalanan ini kembali menajamkan kontemplasi dalam konstalasi peziarahan. Aku bukan juru warta yang cakap berbahasa melaporkan berita. Yang kutulis hanya intisari makna yang tercecap. Sajak dalam larik-lariknya tertoreh sebagai pengingat momentum itu.


Riak air memekik dalam hening Gemericik mata air menari Di antara bebatuan alam Lumut-lumut tebal b…

Postingan Terbaru

Mei

Aku bukan Imagi

Bunga untuk Gubernur

Payung Teduh

Catatan Kecil di Bulan Januari

Ransel Biru

Bising

Flores: Prolog Petualangan ke Timur

Romansa dalam Logika

BALI